Jumat, 04 Februari 2011

Sejarah Singkat Kabupaten Sarolangun II



BAB II

Kondisi Fisik
2.1. Luas dan Batas Wilayah

Kabupaten Sarolangun yang dikenal dengan daerah Sepucuk Adat Serumpun Pseko merupakan Kabupaten pemekaran yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 54 Tahun 1999 pada tanggal 12 Oktober 1999, bersamaan dengan Kabupaten Tebo, Kabupaten Muara Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung.
Geografi wilayah Kabupaten Sarolangun secara keseluruhan berada pada posisi yang cukup strategis berada di jalan Lintas Sumatera dengan luas 617.400 ha atau 6.174,00 Km2 yang terdiri dari dataran rendah 5.248 Km2 (85%) dan dataran tinggi 926 Km2 (15%).

Kabupaten Sarolangun merupakan salah satu dari 10 Kabupaten/Kota di Propinsi Jambi yang berada disepanjang daerah aliran sungai (DAS) Batanghari, Batang Limun, Batang Tembesi, dan Batang Merangin dengan jarak 179 Km dari Ibukota Propinsi Jambi. Wilayah Kabupaten Sarolangun berbatasan dengan Kabupaten Batang Hari pada arah Utara, Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Batang Hari pada arah Timur, Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Sumatera Selatan pada arah Selatan, dan Kabupaten Merangin Pada arah Barat (seperti tergambar pada peta 2. Administrasi Kabupaten Sarolangun). Secara geografi wilayah Kabupaten Sarolangun terletak di bagian Barat Propinsi Jambi, tepatnya pada titik koordinat antara 102°03¢39¢¢ sampai 103°13¢17¢¢ Bujur Timur dan di antara 01°53¢39¢¢ sampai 02°46¢24¢¢ Lintang Selatan.

2.2. Kondisi Topografi, Fisiografi, Geologi dan Tanah


Keadaan topografi wilayah Kabupaten Sarolangun bervariasi, mulai dari datar, bergelombang sampai berberbukit-bukit. Wilayah bagian utara umumnya datar hingga bergelombang, wilayah bagian timur datar bergelombang dan wilayah bagian selatan berbukit-bukit, sedangkan wilayah bagian barat datar bergelombang. Topografi wilayah Kabupaten Sarolangun terdiri dari dataran (0-2%) seluas 94.096 Ha, bergelombang (3-15%) seluas 239.783 Ha, Curam (16-40%) seluas 165.589 Ha dan sangat curam (> 40%) seluas 117.935 Ha .
Wilayah Kabupaten Sarolangun memiliki ketinggian dengan kisaran 20 – 1.950 m dari permukaan laut. Berdasarkan ketinggian di atas permukaan laut, wilayah Kabupaten Sarolangun pada sebagian besar Kecamatan Batang Asai berada pada ketinggian 600 m di atas permukaan laut, Limun 52 m di atas permukaan laut, Sarolangun dan Bathin VIII berada pada ketinggian 38 m di atas permukaan laut, Pelawan Singkut 40 m di atas permukaan laut, Pauh dan Air Hitam 24 m di atas permukaan laut, dan Mandiangin 20 m di atas permukaan laut.

2.3. Penggunaan Lahan

Karakteristik penggunaan lahan dalam wilayah Kabupaten Sarolangun meliputi lahan kering 57,55%, wilayah hutan 40,87%, dan lahan persawahan 1,56%. Telah dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan seluas 195.994 Ha.
2.4. Keadaan Iklim

Dari sisi iklim, Kabupaten Sarolangun termasuk beriklim tropis. Keadaan iklim rata-rata Kabupaten Sarolangun dari tahun 2003 sampai 2005 terlihat cukup konstan, yaitu berkisar antara 23 °C sampai dengan 32 °C. Kelembaban udara rata-rata berkisar 78 %. Curah hujan rata-rata 260 mm/tahun pada tahun 2003-2004 dan 256 mm/th pada tahun 2005.

2.5. Jenis Tanah
Jenis tanah di wilayah Kabupaten Sarolangun sebagian besar Podsolik Merah Kuning (PMK).

2.6. Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Sumberdaya alam yang terbentuk melalui kekuatan atau gaya alamiah, misalnya benteng alam (landscape), panas bumi dan gas bumi, angin pasang surut dan arus laut. Adapun lingkungan hidup adalah system kehidupan dimana terdapat campur tangan manusia dalam mengelola sumberdaya alam yang ada disekitarnya.
Pembangunan yang sedang dan akan dilaksanakan di Kabupaten Sarolangun mempertimbangkan faktor lingkungan dan sumber daya alam yang ada. Pembangunan di daerah ini juga selalu didasarkan kepada pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana. Makin banyak suatu daerah mempunyai sumberdaya alam dan dimanfaatkannya alam itu secara efisien, maka makin baiklah harapan akan tercapainya kehidupan dan kesejahteraan rakyat daerah ini dalam jangka panjang. Potensi sumberdaya alam di Kabupaten Sarolangun tergolong cukup banyak, beragam dan mempunyai daerah perairan yang cukup panjang.

Persoalan lingkungan hidup yang mengkhawatirkan di Kabupaten Sarolangun adalah banjir tahunan. Banjir tahunan ini terjadi karena aktifitas penebangan hutan yang terus dilakukan oleh kelompok- kelompok orang yang tidak bertanggung jawab dan hanya mengejar materi. Disamping itu pencemaran air sungai juga tidak kalah mencemaskan masyarakat, akibat dari aktifitas penambangan emas tanpa izin (PETI) yang menggunakan air raksa/merkuri dalam proses penambangan. Dan yang lebih ironis lagi adalah limbah penambangan yang mengandung zat kimia berbahaya tersebut dialirkan ke sungai. Sungai sebagai salah satu sumber air yang dominan menjadi keruh dan berbahaya bagi kesehatan.
Namun sampai dengan tahun 2005 ini baik aktifitas penebangan hutan maupun penambangan emas Tanpa izin (Peti) masih sering terjadi. Namun data pencemaran dan pelaku pencemaran lingkungan tidak tersedia.

2.7. Sumberdaya Manusia
Secara historis sumberdaya manusia yang ada di Kabupaten Sarolangun masih sangat terbatas untuk itu perlu peningkatan dibidang sumber daya manusia guna mengelola sumber daya alam yang berlimpah secara efektif dan efisien bagi kemakmuran masyarakat Kabupaten Sarolangun yang sebesar-besarnya.
Agar manusia ataupun penduduk yang ada di Kabupaten Sarolangun dapat lebih berpotensi maka landasan agama, latar belakang pendidikan dan budayanya harus diperkuat. Faktor agama dan budaya merupakan dua hal yang penting diperhatikan karena jika agama diabaikan maka kader dan tokoh yang berasal dari Kabupaten Sarolangun ini hanya akan mempunyai visi keduniawian saja dan akan mempunyai tingkah laku tidak terpuji. Demikian juga dengan fasilitas pendidikan hendaknya terus ditingkatkan agar dapat meningkatkan kecerdasan anak daerah yang ada di Kabupaten Sarolangun mempunyai keseimbangan.
Sumber: http://nofeesrlblog.blogspot.com

1 komentar: